
Sejak usia 2 bulan, Nugraha yang tinggal di Garut harus hidup dengan hidrosefalus, yaitu kondisi medis akibat penumpukan cairan serebrospinal di rongga kepala. Penumpukan cairan ini menyebabkan tekanan di dalam kepala terus meningkat dan ukuran kepala membesar secara tidak normal.

Hingga hari ini, cairan tersebut terus bertambah. Kepala Nugraha kini membesar hingga mencapai berat sekitar 17 kilogram, hampir menyamai berat seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang masih sangat kecil harus menopang beban luar biasa setiap saat, membuatnya sulit bergerak dan semakin melemah dari hari ke hari.

Saat tekanan di kepala meningkat, Nugraha merasakan nyeri hebat. Ia hanya bisa menangis kencang karena belum mampu mengungkapkan rasa sakit yang ia rasakan.

Bu Lisna, ibunya, hanya bisa menggendong dan memeluk Nugraha erat, berharap pelukan itu sedikit meredakan rasa sakit yang terus datang tanpa henti.
Kini, di usia sekitar satu setengah tahun, kondisi Nugraha semakin memprihatinkan. Kepala terus membesar, sementara tubuhnya semakin lemah. Tangisannya hampir tidak pernah reda, menandakan tekanan dan rasa nyeri yang terus ia alami setiap hari.
Kondisi ini juga membuat Nugraha sangat sulit untuk makan. Ia belum mampu mengonsumsi makanan padat seperti anak seusianya. Untuk bertahan, Nugraha hanya bisa minum susu dan camilan bayi, padahal di usia ini tubuhnya sangat membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan memperkuat daya tahan tubuh. Keterbatasan asupan ini membuat kekuatannya semakin menurun dan proses pemulihan menjadi semakin berat.
Di tengah perjuangan medis tersebut, Nugraha juga harus kehilangan sosok ayah. Ayahnya pergi meninggalkan keluarga dan tidak lagi memberikan kabar maupun dukungan. Sejak saat itu, Bu Lisna berjuang seorang diri merawat Nugraha dan memenuhi seluruh kebutuhannya.

Untuk bertahan hidup, Bu Lisna berjualan tutut di pinggir jalan. Ia bukan pemilik dagangan, hanya ikut menjualkan. Penghasilannya sangat kecil, kadang hanya sekitar Rp15.000 hingga Rp30.000 per hari, bahkan sering tidak mendapatkan apa pun. Di saat dagangan sepi, Bu Lisna kerap menangis diam diam, memikirkan Nugraha di rumah yang mungkin sedang kesakitan tanpa bisa ia tenangkan.
Pengobatan medis Nugraha memang menggunakan BPJS, namun kenyataannya masih banyak kebutuhan penting yang harus dipenuhi secara mandiri. Mulai dari susu khusus, pampers, kebutuhan nutrisi tambahan, perawatan harian, hingga biaya pendampingan dan transportasi untuk kontrol rutin, semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kebutuhan inilah yang menjadi beban berat bagi Bu Lisna dengan penghasilan yang sangat terbatas.
Meski lelah dan hampir tak memiliki apa apa, Bu Lisna tidak pernah berhenti berjuang. Ia terus berharap dan berdoa agar Nugraha mendapatkan perawatan yang layak dan kesempatan untuk hidup lebih baik.
#OrangBaik, setiap tangisan Nugraha adalah tanda bahwa ia masih berjuang untuk bertahan hidup.
Mari kita hadir bersama untuk meringankan perjuangan Bu Lisna, agar Nugraha bisa mendapatkan perawatan, nutrisi, dan kebutuhan pendukung yang sangat ia perlukan.
Uluran tanganmu hari ini adalah harapan bagi seorang bayi kecil yang masih ingin tumbuh dan mengenal dunia tanpa rasa sakit.
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
